Iktibar Daripada Kisah Ashabul Ukhdud

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.. Aku mohon pertolongan daripadaMua Ya Allah ya Bari' yang Maha Perancang untuk Kau pimpin aku dalam setiap gerakan jari aku menaip ini....
Jiwa pemuda yang kian lesu akan mengakibat kemudaratan yang besar kepada Islam suatu hari nanti. Sekaranng pun kita boleh lihat betapa Islam sudah dipandang jelek oleh masyarakat umum yang lain. Ini kerana kita tidak mampu untuk mengambil iktibar daripada peristiwa yang telah berlaku dahulu. Islam mempunyai sejarah Islam yang sangat gemilang, oleh itu hendaklah kita tanamkan azam untuk mengembalikan kegemilangan Islam suatu ketika dahulu..

Kisah Ashabul Ukhdud boleh kita jadikan teladan kepada kita semua yang telah menyaksikan keteguhan iman seorang anak muda dalam meruntuhkan kejahilan dinegaranya.. kita ikuti ceritanya...:

Kisah ini sangat penting untuk dijadikan rujukan dan ikutan kepada pemuda-pemudi Islam zaman ini kerana ia mengisahkan seorang pemuda yang berani kerana Allah s.w.t, hatta ditaruhkan nyawa sekalipun. Ilmu yang benar akan memimpin kita kepada Allah s.w.t, dan ini lah yang di ajarkan oleh pendeta (ahli Ibadat) sedangkan ilmu yang diajarkan oleh ahli sihir istana adalah bathil semata-mata. Tawaqqal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah s.w.t menyebabkan bukan sahaja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah s.w.t. . Kita dapat mengikuti kisah pemuda ini tertera dalam Surah Al-Buruj dan diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad s.a.w dalm hadith baginda seperti berikut ;

Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"
Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.
Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang (ramai) tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendita itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendita), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka".

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah s.w.t.
Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja
"Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".
Raja bertanya: "Aku?".
Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah".
Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?"
Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah".

Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.

Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit"

Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya pergi ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".

Lalu pemuda itu diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu anda ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya lentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)

Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum Nabi saw.

Semoga pemuda-pemudi Islam kita akan mengambil iktibar dan pedoman dari kisah yang hebat ini.

http://www.islamic-world.net/youth/ashabul_ukhdud.htm

Teringat saya kata-kata Syed Qutb, " Selepas kejatuhan khilafah Islam Turki Uthmaniah pada 3 Mac 1924, semua umat Islam akan menanggung dosa sehinggalah khilafah Islam dapat kembali ditegagkkan" oleh tu kepada para pemuda-pemuda sekali, mari kita bangkit dalam membawa perjuangan suci ini. Jangan kita hanyut dengan mainan yang dibawa oleh musuh kita. Ketahuilah bahawa musuh-musuh kita bertepuk tangan meraikan kejayaan kereka kerana berjaya menipu kita semua dalam senyap dengnan menggunakan senjata hiburan mereka. Saya akhiri petikan ini dengan sepotong kata-kata daripada Hasan Hudaibi," tegakkan daulah Islamiyah dalam dirimu, nescaya akan tertegak daulah Islamiyah di Tanah airmu".

Wallahu'alam..

Bila Mahasiswa Berfikir...


sumber:www.mahasiswakini.com
Oleh : Raihan Ishak*

Wujudkah DAKWAH vs POLITIK KAMPUS?

Secara amnya, bila berbicara hal demokrasi dalam pilitik kampus, rata-rata mahasiswa akan melihat akan kualiti dan kredibiliti sesebuah parti politik kampus tersebut sebelum mendukung dan mengangkat parti tersebut sebagai pilihan. Menyebut pula hal kualiti dan kredibiliti parti, sudah pasti itu adalah transaksi gambaran dalaman dan persona-persona yang mendukung kuat dan menjadi pemimpin di dalam parti tersebut.


Merujuk hal berikut, peribadi-peribadi yang berada di dalam sesebuah parti itulah sebenarnya menjadi pokok pandang dan tauladan yang mampu memberikan pengikut dan simpatisannya (penyokong) sentiasa menyakini karisma dan kemampuan barisan pimpinan untuk memimpin tunjang visi dan misi parti pro-islami tersebut.


Tarbiyah siyasah yang bermakna pendidikan politik adalah merupakan hal yang sangat penting untuk difahami oleh setiap barisan pimpinan parti pro-Islam di kancah politik kampus. Ini kerana pemahaman politik yang difahami bukanlah bermakna hanya rencah ilmu politik kampus umum semata iaitu untuk memperoleh kuasa pimpinan dan mempertahan kekuasaan . Akan tetapi, berpolitik kampus di sini ialah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran ilahiah dan memperjuangkan kepentingan dan maslahat masyarakat kampus. Berkuasa untuk melayani ummat mahasiswa dan memimpin untuk memperbaiki sistem yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Itulah lahang yang menjadi misi sesebuah parti pro-Islam di dalam kampus sesebuah universiti.


Dakwah, satu ayat yang membawa erti sangat besar malah satu ketika mendengar sahaja sudah membuat sesetengah pihak itu fobia dan sensitif. Dakwah yang bertujuan menyeru manusia untuk kembali kepada nilai-nilai Islam secara komprehensif bukanlah perkara yang asing di dalam kamus perjuangan parti pro-islami malah penyeruan ke arah pembaikan sahsiah, intelek, maslahat fizikal juga merupakan salah satu jahan kepada dakwah. Hal ini tidak memdeskriminasikan antara politik kampus dan dakwah bahkan asas dan misi sesebuah parti pro-islam itu adalah dakwah itu sendiri yang mengajak ke arah pembaikan dari segala aspek kehidupan mahasiswa baik dari hak kerakyatan mahasiwa mahupun hak pembaikan dalaman peribadi seorang mahasiswa tersebut.


Sehubungan dengan itu, memastikan kejayaan misi sesebuah parti pro-Islam itu adalah
suatu perjuangan yang sangat sukar dan memerlukan strategi tertentu demi untuk melihat akan kejayaan yang hakiki iatu kejayaan untuk melihat kebenaran dan kebaikan itu benar-benar termaktub di dalam wilayah kampus tertentu.

Mari kita melihat dasar dan asas kemenangan sesebuah parti itu, selain dari tahap intelek, peduli ummah, kualiti karismatik pemimpin, dan segala macam perancangan pembaikan maslahat, perlu diteliti juga tahap keruhanian dan keimanan sang pemimpin. Kembali kepada sejarah Islam semula. Di penghujung tahun 12Hijrah, Abu Bakar telah mengirimkan pasukan untuk membebaskan negeri-negeri Syam dari genggaman Romawi. Amr bin Ash r.a dipilih sebagai panglimanya. Pada perang tersebut, jumlah pasukan Islam 40 000 orang, sedang jumlah pasukan Romawi adalah 200 000 orang. Skala pembandingannya adalah satu perlima. Namun akhirnya, kaum muslimin juga yang berjaya mengalahkan mereka. Jumlah yang tak seimbang namun pasukan yang sikit itulah yang mampu menumbangkan pasukan yang lima kali ganda lebih banyak. Apakah penyebabnya?…..adakah pertolongan Allah itu datang tanpa mendasari juga kepada keimanan para prajurit2 Islam tersebut? Kita telah yakin terhadap keimanan para sahabat, yang tidak mampu dibandingkan dengan keimanan manusia di abad mana pun.


Terhadap ibadah mereka, kita juga tidak ragu. Kisah-kisah yang menakjubkan tentang peribadi-peribadi yang bekerja kerana Allah itu, tidak dapat dinafikan pada siang hari mereka bersemangat waja di dalam medan pertempuran dan menunggang kuda
walaupun pada malam hari mereka giat bersama Tuhan mereka.


Seorang pendakwah di bumi mesir, Syeikh Juma’ah Amin berkomentar pada salah satu ceramahnya
“ mereka mampu menjadi para penunggang kuda di siang hari kerana mereka telah terlebih dahulu menjadi rahib-rahib di malam harinya” .


Itulah kekuatan yang Allah berikan pada peribadi-peribadi tersebut, atas keimanan dan hubungan yang dekat dengan Allah itulah, DIA telah memberikan kemenangan dakwah kepada mereka dan mereka mampu untuk bekerja kepada Allah. Malah atas dasar keimanan mereka itu juga maka tertegaknya agama Islam yang kita anuti sekarang ini, tersebarnya hingga ke tanah Malaysia malah di mana-mana sahaja…..dakwah Islam itu menjadi sesuatu yang luas dan menjadi misi utama hidup mereka sekalipun dilemparkan di bumi asing …dan hal kekuatan perasaan ini takkan hadir tanpa didasari kepada keimanan dan keikhlasan amal kepada Allah..


Subhanallah, itu mungkin alkisah perjuangan para sahabat Rasulullah, lihat sahaja Rasulullah (juga seorang politikus), bukan setakat menangis di malam hari malah tumit kakinya diriwayatkan pecah lantaran kerapnya baginda bangun malam memohon keampunan dan pertolongan dari Allah swt. Mungkin ada yang beranggapan peristiwa itu mungkin terlalu jauh dari era kotemporari kita sekarang, sudah terlalu lapuk bentuk dan perjuangan yang dibawa Rasulullah bersama sahabat. Ya mungkin, tetapi ingat iman, ikhlas, semangat dan amal takkan pernah lapuk dek zaman malah jika mahu dibandingkan kita dengan mereka, seumpama berjuta hektar terlalu jauh kualiti dalaman berbanding dengan kita yang hidupannya telah divirusi oleh simptom-simpton virus hedonisme, virus keselesaan, virus hiburan melampau, virus asyikan cinta berlainan jantina hingga menjadi barah yang sukar diubati.


Namun, sejarah beberapa dekat lalu turut membuktikan. Kehebatan perjuangan suci Muhammad alFatih pada zaman 1400-an tak dapat dinafikan baik dari orang barat mahupun muslim. Terlatih dengan kehidupan yang sederhana kemudian dididik dengan ilmu seimbang ukhrawi dan duniawi. Jelas nyata memberikan buah penghasilan yang begitu besar di mata Islam. Tertawannya kota Konstantinopel itu bukanlah suatu kejayaan biasa tetapi satu kegemilangan yang luar biasa yang akhirnya setelah 800 tahun barulah ungkapan hadith Rasulullah tentang Konstantinopel menjadi realiti.


Jika diperhalusi taktik dan strategi yang digunakan oleh baginda tuan Muhammad al Fatih, jelas kebijakan intelek menjadi sumber kejayaan namun jauh dari sudut pandangan telanjang mata manusia, baginda bukanlah calang-calang orang di hadapan Allah ta’ala. Keimanannya jelas lebih hebat dari kader tenteranya, ibadahnya jauh lebih biasa yang dilakukan oleh peorangan ketika zamannya itu. Lihat, masih releven kisah Muhammad alFateh dengan kita walau angka perbandingan waktu telah mencapai kepada 600 tahun namun sikap dan unsur dalaman masih tetap releven biar di era mana sekalipun.


Konklusi dari semua ini, politik dan dakwah adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan istilahnya dari kaca mata parti pro-islam. Keberhasilan dan kesuksesan berpolitik atau jihad siyasi ini harus berimpak kepada dimensi kehidupan dunia lahiriah dan fikrah mahasiwa. Yang berhujung pangkal kepada pencerdasan anak bangsa dan percetakan generasi rabbani di dalam universiti dari pelbagai aspek pandangan, baik dari aspek sosial budaya, pemikiran, moral dan hak-hak kerakyatan universiti.


Ia harus selaras juga dengan cara mewarnai suasana kampus itu dengan suasana yang cantik hakiki dan sembuh dari penyakit-penyakit virus yang disebutkan sebelum ini. Kerana tiadanya penciptaan ubat dari sang penguasa yang baik, orang bawahan akan terus selesa dengan keadaan yang sedia ada, dan orang bawahan hanya akan mampu bertindak sewajar limitasi akta. Jadi, marilah kita menilai tahap keadaan diri masing-masing. Transaksi kejayaan sesebuah parti bukan hanya kepada kecekapan dan ruhaniah barisan pemimpin sahaja tetapi juga barisan penyokong yang pastinya terdorong dari revolusi yang dilakukan pihak pucuk pimpinan. Wallahu ‘alam.



Tahap pemikiran mahasiswa seharusnya lebih ligat berfikir dan sentiasa
think out of the box..
..

kalau, setuju dengan kenyataan ini..adakah kita tergolong di dalam golongan ini??

Halloween

Persaudaraan Syaitan Bersyiarkan Halloween
Abu Saif | 28/10/2009 | 9:38 am | 280 views | Print | Email




"Imam, apa nasihat awak kepada anak-anak kami supaya mereka tidak sibuk menyambut Halloween hujung minggu ini?" tanya seorang bapa kepada saya.

Beliau sedang menunggu Sunday School tamat tengah hari itu untuk mengambil si anak.

"Sulit. Aktiviti membuat kostum, menyiapkan bakul gula-gula, melukis poster, mengukir labu, semua itu sangat menarik perhatian anak-anak, bukan? Tempting!" saya membetulkan ketayap di kepala.

"Betul, Imam. Memberitahu anak-anak bahawa segala keseronokan itu bertentangan dengan Islam memang sulit. Saya masih mencari alternatifnya, " kata si bapa.


"Mungkin di sinilah kesilapan ibu bapa. Ada yang kuat semangat Islam, menentang sambutan harijadi, tetapi yang ditentang bukan sekadar konotasi `tidak Islamik' pada sambutan harijadi itu, malah memberi hadiah kepada anak-anak pun tanpa disedari turut ditentangnya. Padahal, jika birthday itu salah sekali pun, memberi hadiah dan menyatakan penghargaan kepada anak-anak adalah Sunnah," saya berkongsi pandangan.

"Betul. Tak sambut birthday, jangan sampai tak pernah beri anak hadiah," tambah beliau.

"Tak bagi anak berseronok menyambut Halloween, janganlah semasa Aidilfitri pun bapa tidak bercuti untuk bergembira dengan keluarga," saya turut menokoknya.

Kelas sudah tamat.

Anak-anak sudah keluar dari kelas dan berlari-lari turun naik tangga masjid.

Pada suatu ketika, saya dan guru-guru pening kepala dengan kerenah mereka yang sangat suka berlari di dalam bangunan masjid hingga bergegar bagai gempa bumi. Tetapi apabila memikirkan rumah Victorian masing-masing yang sempit dan berbilik-bilik, maka masjid jualah bangunan lapang yang dilihat di mata mereka seperti trek balapan!

Kawal sahaja, tidak kuasa melarangnya.





Keghairahan menyambut Halloween bukan hanya mengHANTUi kanak-kanak, malah turut menggeletek naluri murid tua daripada kalangan anak muda di universiti. Andaikata mereka itu remaja yang lahir dan membesar di negara Barat, tidaklah sukar untuk difahami dari mana keinginan itu dirangsang. Tetapi jika mereka baru setahun dua menjenguk negeri orang dan ghairah mahu menyertai apa sahaja yang dilakukan massa, ia lebih kepada masalah kejutan budaya berbanding survival identiti yang dialami oleh American atau British Muslim generasi kedua dan ketiga.

"So, bolehkah ustaz kami menyambut Halloween?" tanya pelajar Malaysia yang menuntut di sebuah universiti di Ireland, tanah Celtic tempat lahirnya Samhain, Halloween dalam lingkungan Paganism di suatu ketika dahulu.

"Sebenarnya tiada jawapan yang muktamad untuknya," saya melayan soalan yang ditanya.

Menjawab secara reverse psychology.

Nampak ceria di wajah pelajar yang bertanya, kerana seperti bakal menerima kurniaan keharusan menyambut Halloween daripada Ustaz Hasrizal. Bolehlah nanti dialasankan, harus menyambut Halloween menurut Ustaz Hasrizal!

"Ia bergantung kepada tahap sensitiviti kamu kepada agama. Tahap kepentingan Allah dalam hidup kamu" saya menyambung.

Berubah sedikit wajahnya.

"Jika kamu anggap, yang salah di dalam Islam hanya jika kamu sujud ke salib di gereja atau menyembah berhala di kuil dan tokong, maka Halloween tidaklah sampai ke situ. Walaupun ia adalah amalan Pagan yang lebih merupakan Festival of the Dead, hari ini perayaan Halloween sudah terpisah daripada sejarahnya. Saya rasa, hanya segelintir kawan Irish kamu yang sedar akan asal usul Halloween ini," saya meneruskan jawapan.

"Betul ustaz. Sudah jadi budaya, bukan lagi agama. Macam Chinese New Year!" sampuk pelajar itu.

"Budaya sekular!" tokok seorang lagi.

Saya mengiyakan kata-kata mereka.



Halloween dengan sejarahnya yang penuh dengan tahyul itu, tidaklah disambut hari ini dengan kepercayaan yang sama. Labu Jack-o'-lantern itu bukan lagi untuk membantu roh Jack merayau antara langit dan bumi, atau untuk menghalau hantu.

Tetapi tanpa semua itu, Halloween masih Halloween.

Bagaimanakah tahap sensitiviti kita kepada isu-isu berikut?

IMITASI JAHILIAH

Islam mementingkan proses memelihara jati diri penganutnya. Tersendiri dan beridentiti.

Selain cara berpakaian yang ada kod tertentu berkaitan aurat sebagai asas dan keperluan memelihara janggut bagi lelaki, Islam juga menegah perbuatan meniru trend kaum lain yang menghilangkan identiti Islam seorang Muslim. Justeru Rasulullah sallallaahu `alayhi wa sallam bersabda:



"Barangsiapa yang menyerupakan dirinya dengan satu-satu kaum, maka dia adalah sebahagian daripada kaum tersebut" [Hadith daripada Ibn Umar radhiyallaahu 'anhuma, dikeluarkan oleh Abu Dawood dan disahihkan oleh Ibn Hibban]

Walaupun hadith ini lemah kerana wujudnya perawi bernama `Abdullah ibn Luhay'ah, ia diperkukuhkan oleh pelbagai riwayat lain yang memperincikan penegasan yang sama oleh Rasulullah sallallaahu `alayhi wa sallam seperti penegasan beza puasa kita dengan puasa Ahli Kitab pada Sahur, penegasan antara lubang dan liang lahad pada cara mengebumikan jenazah, juga pada soal bersolat dengan sarung kaki atau tidak.

Tegasnya, meraikan Halloween itu melucutkan jati diri Muslim, dan meniru identiti kaum yang mensyirikkan Allah dan meraikan kufur sebagai gurau senda harian.

PERGAULAN BEBAS

Sambutan Halloween sama ada di jalanan atau di parti-parti yang dianjurkan, sangat sinonim dengan amalan pergaulan bebas. Bercampur aduk di antara lelaki dan perempuan dalam suasana liar, malah keliru di antara lelaki dan perempuan kerana kostum yang pelbagai, sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Malah Halloween sangat sinonim dengan pertambahan kes jenayah berkaitan penyalahgunaan dadah dan seks seperti rogol. Biar pun jenayah ini mengalami normalisasi akibat budaya Barat yang bertolak ansur malah menerima seks bebas ini, bagaimana pula dengan Islam, al-Quran, kubur, Akhirat, Syurga, Neraka dan Allah Subhanahu wa Ta'aala itu sendiri?

Soalnya sejauh manakah sensitiviti kita terhadap hal tersebut?

"Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan jahat (yang membawa kerosakan)" [al-Israa' 13: 32]

Halloween adalah pakej lengkap untuk anak muda mendekatkan diri kepada zina.



MENGGANGGU KETENTERAMAN AWAM

"Trick or treat?!" sergah anak-anak muda di pintu rumah.

Tuan rumah mempunyai dua pilihan.

Sama ada melayan `hantu-hantu' yang datang ke muka pintu (treat), atau disumpah dengan sial di dalam sejarah atau helah mengena yang dikenakan mengikut kreativiti mereka (trick).

Mengetuk pintu rumah pada waktu malam untuk gurau senda versi Halloween ini amat mengganggu ketenteraman awam. Orang tua dan bayi kecil adalah golongan yang paling terjejas. Tambahan pula dengan penyertaan mercun, Halloween sangat mengganggu malah bisa juga memudaratkan orang lain.

Ia bertentangan dengan definisi Muslim yang disebut oleh Rasulullah sallallaahu `alayhi wa sallam:



"Seorang Muslim itu ialah seseorang yang para Muslim lain terselamat daripada (kejahatan) lisan dan tangannya" [Muttafaq 'alayhi]

Muslim mengambil berat dan membantu jiran tetangga.

Muslim tidak menyusah dan mengganggu mereka.

PEMBAZIRAN

Matlamat baiknya tiada.

Belanja meraikan Halloween membabitkan wang dan masa.

Kombinasi antara wang dan masa yang dibelanjakan dengan matlamat baik yang tiada, menghasilkan formula pembaziran.

Berapakah keuntungan yang diperolehi oleh peniaga-peniaga yang menjual kostum serta segala peralatan untuk menyambut Halloween? Berapakah penjimatan yang boleh dilakukan apabila kita tidak menjadi manusia yang sentiasa mengikut trend, buat apa yang orang lain buat, beli apa yang orang lain beli, pakai apa yang orang lain pakai?

Ada saudara mara yang kesusahan, ada anak yatim dan miskin yang memerlukan bantuan, ada tanggungjawab belajar yang memerlukan buku serta pelbagai proses pembelajaran lain yang perlu diutamakan, mengapa Halloween jadi pilihan?



"Dan berikanlah kepada kaum keluargamu, dan orang miskin serta orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membelanjakan hartamu dengan pembaziran yang melampau. Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara Syaitan, sedang Syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya" [al-Israa' 17: 26-27]

Ada banyak bentuk pembaziran lain yang menjadikan kita saudara Syaitan. Tetapi membazirkan wang dan masa untuk Halloween, adalah acara rasmi menjadi saudara Syaitan dengan sokongan kostum dan kegilaan laku.

LAGHA

Apa sahaja perbuatan yang tidak dapat dijustifikasikan motifnya secara positif pada neraca agama, adalah lagha.

Menghindarkan diri daripada perkara-perkara lagha itu adalah salah satu daripada jalan penting untuk seorang insan beriman mengecap kejayaan di dunia dan di Akhirat.



"Sesungguhnya berjayalah orang-orang Yang beriman. Iaitu mereka yang khusyuk di dalam solatnya. Dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia" [al-Mu'minun 23: 1-3]

Usaha seorang Mukmin mencegah dirinya daripada terbabit dengan sambutan Halloween adalah sebahagian daripada sikapnya yang perlu berterusan pada mengelakkan diri daripada perkara-perkara yang tidak bermanfaat.

Jelas sekali keupayaan mengawal diri agar kehidupan terisi dengan manfaat, kebajikan dan kebaikan, adalah sikap-sikap manusia berjaya, dan selayaknya golongan yang berjaya itu didahului oleh Mukmin yang sudah sedia menerimanya sebagai sebahagian daripada tujuan hidup.

PENTINGKAH SEMUA ITU?

"Berbalik kepada persoalan asal tadi, pentingkah semua itu kepada kita?" saya mengejutkan pelajar daripada lamunan mereka.

"Nasihat saya ini tidak relevan jika Halloween mahu dihindarkan, sedangkan majlis tari menari, keluar masuk rumah lelaki dan perempuan secara bebas dan semua itu masih menjadi kebiasaan harian kita. Semuanya berbalik kepada tahap sensitiviti anda. Ia besar bagi seorang Mukmin yang menjadikan Allah sebagai keutamaan tertinggi hidupnya. Ia remeh bagi Muslim yang lebih cenderung untuk menjamu nafsunya berbanding tujuan hidup yang tinggi. Terpulang" saya menyudahkan sesi soal jawab.

Teringat kembali kepada sambungan perbualan saya bersama ibu bapa pelajar Belfast Islamic School.



Kami para guru menganjurkan kepada ibu bapa pelajar supaya berhemah dalam menerangkan hal ini kepada anak-anak. Jangan sampai nanti, ada anak-anak yang beranggapan bahawa ibu bapa mereka menjadikan agama sebagai alasan untuk tidak mengeluarkan belanja, mengongkong anak-anak sedangkan mereka sendiri tidak melakukan apa yang sepatutnya dilakukan oleh ibu bapa yang mematuhi agama.

Pastikan sambutan Aidilfitri dan Aidiladha cukup manis untuk dikenang oleh anak-anak. Elakkan bekerja pada hari perayaan kaum Muslim yang dianugerahkan Allah dan Rasul ini.

Berikan keyakinan kepada anak-anak untuk berani tersendiri. Mempunyai identiti dan tidak sentiasa terpaksa serupa dengan orang lain.

Jika terdesak, cutikan sahaja anak-anak daripada hari persekolahan ketika parti Halloween diadakan.

Dan apa yang lebih utama, jadikan Islam benar-benar sebagai sistem nilai keluarga. Jangan tunggu Halloween baru mahu `menggunakan' Islam.

Dalam situasi seperti ini, `presenting problem' yang ada di depan mata adalah Halloween. Tetapi `the real problem' yang perlu diberikan perhatian ialah, di mana Islam dalam hidup kamu?



Soalan itu semakin ganjil apabila ia dirujuk kepada keghairahan warga Malaysia menyertai Halloween kebelakangan ini.



Daripada Abu Sa'eed al-Khudri radhiyallahu `anhu bahawa Nabi sallallahu `alayhi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya kamu akan menurut langkah orang terdahulu dari kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehinggalah bila mereka masuk lubang biawak sekali pun kamu turut menurutnya. Para sahabat bertanya: Adakah yang dituruti itu Yahudi dan Nasrani? Rasulullah lantas menjawab, siapa lagi kalau tidak mereka itu. [Hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim]

ABU SAIF @ www.saifulislam. com
68000 AMPANG

dipetik dari mailing group saifulislam.com